MSSF 2026 Kota Malang: 64 Tim Adu Sambit di Langit Gadang

0

Pemerintah Kota Malang memandang gelaran berbasis komunitas sebagai salah satu penggerak wisata sekaligus ruang tumbuh ekonomi kreatif. Malang Solidarity Sky Fest (MSSF) 2026 menjadi contoh…

64 Tim Adu Sambit di Langit Gadang, Wawali Malang Dorong MSSF 2026 Naik Kelas

Pemerintah Kota Malang

Pemerintah Kota Malang memandang gelaran berbasis komunitas sebagai salah satu penggerak wisata sekaligus ruang tumbuh ekonomi kreatif. Malang Solidarity Sky Fest (MSSF) 2026 menjadi contoh terbarunya. Perhelatan yang mempertemukan puluhan komunitas pelayang itu dinilai berpotensi menarik kunjungan lebih luas dan menghidupkan usaha kecil di sekitar lokasi.

Bagi pemerintah kota, MSSF dinilai lebih dari sekadar festival layang-layang. Ajang itu dipandang berpeluang menggerakkan kunjungan wisata sekaligus menghidupkan ekonomi kreatif warga.

Festival dua hari, 8-9 Agustus 2026, itu resmi berakhir pada Minggu (9/8/2026) sore. Penutupan digelar di lapangan layang-layang Gadang 12B yang berada di Kecamatan Sukun, Kota Malang. Wakil Wali Kota Malang, Ali Muthohirin, hadir langsung dalam agenda tersebut.

Menurut Ali, MSSF sejalan dengan program Pemerintah Kota Malang, terutama Dasa Bakti pada bagian Malang Tahes dan kreativitas. Ajang semacam ini, katanya, bukan sekadar hiburan. Warga memperoleh ruang untuk mengembangkan potensi sekaligus menjalankan aktivitas ekonomi kreatif.

Dalam pandangan Ali, gelaran seperti MSSF menunjang program pembangunan yang tidak berhenti pada pekerjaan fisik. Kreativitas warga, katanya, adalah aset yang perlu dijaga supaya terus muncul dan berkembang di Kota Malang.

Menurut Ali, kota ini punya modal komunitas kreatif yang tumbuh dari bawah. Ia berharap komunitas layangan dan kreativitas warganya makin berkembang.

Menurutnya, festival berbasis komunitas memberi ruang bagi warga untuk menampilkan hasil karyanya. Semakin sering ruang itu dibuka, semakin besar peluang karya warga dikenal lebih luas.

Ia menilai keberadaan komunitas kreatif sebagai salah satu kekuatan yang bisa diandalkan untuk menaikkan daya tarik kota. Karena itu, penyelenggaraan MSSF ke depan diharapkan diperbesar, baik dari sisi skala maupun jumlah kegiatannya.

Semakin besar event yang digelar, menurut Ali, semakin luas pula ruang bagi generasi muda untuk menyalurkan kreativitasnya. Pelibatan pelaku UMKM juga dinilai memberi dampak ekonomi bagi masyarakat sekitar.

Ia menyebut pelaku usaha kecil yang terlibat dalam acara bisa memperoleh manfaat langsung. Karena itu, jumlah mereka dinilai layak ditambah pada penyelenggaraan berikutnya.

Apresiasi itu disampaikan Ali saat menutup festival. “Kita bangga dan bahagia, karena ini bisa meningkatkan daya jual Kota Malang,” katanya. Ia menambahkan, bazar UMKM di dalam acara masih bisa diperbesar dan diperbanyak, sementara generasi muda perlu terus ditumbuhkembangkan.

Ali juga menyoroti sisi pembangunan yang tidak selalu berbentuk fisik. Menurutnya, kreativitas yang muncul dan berkembang di Kota Malang perlu dijaga bersama, sebab dari situ lahir produk yang sebagian bahkan sudah menembus pasar ekspor.

64 Tim dari 20 Komunitas Adu Sambit

Lomba sambit digelar Sabtu (8/8/2026), hari pertama rangkaian acara. Ada 64 tim yang mewakili sekitar 20 komunitas dari Malang Raya. Pelayang yang bertanding datang dari Gondanglegi, Singosari, Kota Malang, dan Kota Batu.

Angka peserta itu menunjukkan basis komunitas yang cukup lebar. Sebagian pelayang bahkan menempuh perjalanan dari luar kota untuk ikut bertanding.

Lapangan itu memang dipakai khusus untuk layang-layang, sesuai namanya. Arena tetap semacam ini membuat pelayang punya tempat berlatih dan bertanding.

Selama dua hari, arena itu menjadi titik temu pelayang dari berbagai daerah. Penonton yang datang juga bisa melihat langsung pameran layangan hias yang dipajang di lokasi.

Perlombaan itu menjadi salah satu bagian rangkaian festival. Panitia menyiapkan sejumlah agenda pendukung agar acara tidak berhenti pada kompetisi.

Di luar kompetisi, ada bazar UMKM, pameran layangan hias, dan eksebisi bermain layang-layang. Panitia juga menggelar lomba video konten serta sejumlah kegiatan pendukung.

Festival ini juga membuka ruang interaksi antara komunitas pelayang dan warga. Kegiatan semacam itu disebut memperkuat solidaritas lewat aktivitas kreatif yang berbasis budaya.

Pelibatan pelaku usaha kecil disebut sebagai bagian dari upaya menggerakkan ekonomi kreatif. Dengan makin banyak kegiatan berbasis komunitas, festival ini diharapkan memberi dampak lebih luas bagi pariwisata dan perekonomian lokal.

Pada hari kedua, Minggu (9/8/2026), rangkaian itu ditutup dengan pengumuman pemenang lomba kombat sambitan. Nomor ini menjadi salah satu bagian yang paling ditunggu.

Gelaran dua hari itu disebut berlangsung sukses. Antusiasme peserta dan warga menjadi penanda bahwa permainan tradisional masih punya tempat.

Ketua PELANGI Kota Malang, Mohammad Saiful Hamzah, menyebut antusiasme peserta tetap tinggi. Menurut dia, layang-layang sudah masuk kategori olahraga masyarakat melalui KORMI. Permainan ini sudah tumbuh puluhan tahun dan melahirkan banyak komunitas di wilayah Malang Raya.

Saiful menyebut perhatian terhadap komunitas layang-layang meningkat dalam beberapa tahun terakhir. Ia berharap tren itu berlanjut, sehingga layang-layang tidak lagi hanya dipandang sebagai permainan, melainkan tetap lestari sebagai bagian budaya masyarakat.

Menurut Saiful, pelayang asal Malang Raya kerap berlaga di daerah lain, seperti Jakarta dan Bandung. Sebagian di antaranya bahkan pulang dengan prestasi. Harapannya, pemerintah memberi dukungan lebih besar bagi pegiat di daerah.

Persoalan regenerasi menjadi perhatian tersendiri bagi komunitas. “Layang-layang ini sudah jadi bagian budaya Malang Raya, jadi sayang kalau sampai hilang,” ujarnya.

Ia mencontohkan ajang kategori anak di Sawojajar yang diikuti hampir 100 peserta usia di bawah 12 tahun. Layang-layang, kata Saiful, termasuk kegiatan positif yang bisa diikuti anak-anak. Manfaatnya terasa terutama ketika penggunaan gawai di kalangan anak makin tinggi.

Orang tua, tuturnya, sering bertanya soal jadwal lomba khusus anak berikutnya. Penyelenggaraan kategori itu memang menuntut persiapan dan pendampingan lebih karena pesertanya masih berusia kecil.

Tingginya minat itu membuat komunitas tergerak membuka lebih banyak ruang lomba untuk peserta usia dini. Komunitas memandang ruang seperti ini penting agar minat terhadap permainan tradisional tidak putus.

MSSF Jadi Ruang Silaturahmi dan Pembibitan

Ketua Pelaksana MSSF 2026, Deny Rahmawan, menegaskan festival ini tidak hanya diarahkan sebagai ajang kompetisi. “Agenda ini selain menjadi pembibitan dan ajang kompetisi, juga menjadi kesempatan silaturahmi,” tandasnya.

Deny menegaskan, festival ini bukan sekadar olahraga yang menuntut kemenangan. Ruang bagi pegiat untuk menampilkan karya dinilainya sama pentingnya dengan hasil pertandingan.

Menurut Deny, MSSF membuka ruang bagi para pegiat untuk menyalurkan kreativitas sekaligus mempererat hubungan antarkomunitas. Tema yang diusung, Bersatu di Langit, Melayangkan Kreativitas, menggambarkan semangat itu.

Kehadiran festival dinilai memperkuat solidaritas warga sekaligus menjaga eksistensi permainan tradisional. Keterlibatan komunitas dan pelaku UMKM membuka peluang agar gelaran ini memberi kontribusi bagi pariwisata dan ekonomi kreatif Kota Malang.

Dari sisi penyelenggara, festival ini disebut sebagai ruang pembibitan generasi baru pelayang. Kompetisi tetap menjadi bagiannya, tetapi bukan satu-satunya tujuan.

Menurut Deny, gelaran ini juga menjadi kesempatan memperkenalkan layang-layang kepada warga yang belum pernah terlibat. Harapannya, makin banyak warga tertarik mencoba permainan tradisional tersebut.

Dorongan Wisata Berbasis Event

Festival ini menjadi salah satu penanda peringatan HUT ke-81 RI di Kota Malang. Program 1.000 event dan Dasa Bakti, dengan Ngalam Tahes serta Ngalam Asik di dalamnya, menjadi kerangka kebijakan yang dipakai Pemkot Malang. Melalui event berbasis komunitas, kota ini diarahkan tumbuh sebagai destinasi wisata yang kreatif, inklusif, dan berkelanjutan.

Pola itu menunjukkan kota ini mengandalkan rangkaian kegiatan, bukan satu acara besar. Kualitas tiap gelaran pun menjadi penentu.

Kapolresta Malang Kota Danang Setiyo Pambudi Sukarno hadir, begitu pula Kapolsek Sukun Ryan Wahyuningtyas. Kadiskominfo M Nur Widiyanto juga hadir, bersama Anggota DPRD Kota Malang H. Rokhmad dan Kristina. Tampak pula Ketua KORMI Kota Malang Sofyan Edi Jarwoko, Sekretaris KONI Joko Purwosusanto, kabid olahraga Disporapar Bagus, serta jajaran Kecamatan Sukun dan Kelurahan Gadang.

Pemerintah Kota Malang memandang MSSF 2026 sebagai penanda bahwa event berbasis komunitas layak diandalkan. Dengan skala yang direncanakan diperbesar dan pelibatan UMKM yang diperbanyak, festival layang-layang itu diharapkan tidak berhenti sebagai agenda tahunan, melainkan naik kelas menjadi salah satu daya tarik utama Kota Malang.

Reputasi kota sebagai tuan rumah event pun ikut dipertaruhkan. Kalau skala diperbesar dan kualitasnya dijaga, festival layang-layang bisa menjadi wajah baru wisata Kota Malang.

Antusiasme komunitas dan warga pada gelaran tahun ini menjadi modal. Festival layang-layang diharapkan naik kelas dan menjadi salah satu ciri khas wisata kota.

Sejauh mana rencana itu berjalan akan terlihat pada penyelenggaraan tahun depan. Yang pasti, gelaran tahun ini sudah memberi gambaran soal besarnya minat warga pada festival layang-layang.

Infografis 64 Tim Adu Sambit di Langit Gadang, Wawali Malang Dorong MSSF 2026 Naik Kelas

Dokumentasi: malangpagi.com

Baca juga

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *