Kampung Klasik IV Merjosari Malang: 18 Anjungan Budaya dan Kalender Wisata
Lingkungan RW XI Perumahan Villa Bukit Tidar, Kelurahan Merjosari, Kecamatan Lowokwaru, berubah menjadi kampung budaya selama empat hari, 26–29 Agustus 2026. Wali Kota Malang Wahyu Hidayat membuka…
Pemerintah Kota Malang
Lingkungan RW XI Perumahan Villa Bukit Tidar, Kelurahan Merjosari, Kecamatan Lowokwaru, berubah menjadi kampung budaya selama empat hari, 26–29 Agustus 2026. Wali Kota Malang Wahyu Hidayat membuka Kampung Klasik IV pada Rabu malam, 26 Agustus 2026. Pergelaran tahunan warga itu terselenggara sebagai bagian rangkaian peringatan HUT ke-81 Kemerdekaan Republik Indonesia, dengan tema ‘Merawat Tradisi, Menghidupkan Ruang Waktu’.
Wali Kota menilai pergelaran yang digagas warga tersebut punya karakter tersendiri bila dibandingkan kegiatan kampung tematik lain. Konsep budayanya berganti setiap tahun, dan seluruh RT di RW XI ikut terlibat di dalamnya.
Keramaian festival ini tidak hanya datang dari warga RW XI. Pengunjung dari wilayah lain ikut hadir, dan panitia membacanya sebagai tanda minat yang tumbuh terhadap pergelaran berbasis budaya ini.
Satu RT, Satu Daerah
Sebanyak 18 anjungan budaya berdiri di lingkungan RW XI, satu untuk tiap RT. Tema daerah ditentukan lewat pengundian, sehingga setiap kampung mendapat kekayaan budaya yang berbeda untuk ditampilkan.
Pembukaan pada Rabu malam ditandai pemotongan pita. Setelah itu Wali Kota berkeliling stan didampingi warga, menyapa pelaku usaha dan pengunjung yang memadati area festival.
Deretan anjungan itu memperkenalkan budaya Osing, Bondowoso, Mojokerto, Tengger, Mataraman, hingga Madura. Menurut Wali Kota, cara penyajian seperti itu membuat pengunjung tidak sekadar menonton hiburan, melainkan juga mendapat pengetahuan tentang keberagaman Jawa Timur. Ia menilai masih banyak orang belum mengenal budaya-budaya tersebut, sehingga festival ini sekaligus menjadi ruang pembelajaran, terutama bagi generasi muda.
Wali Kota menilai Kampung Klasik bukan sekadar panggung yang menampilkan unsur budaya lama. Baginya, festival ini menunjukkan semangat kebersamaan warga sekaligus menjadi ruang untuk berkarya dan berekspresi.
Pemkot memandang festival semacam ini sebagai bentuk promosi pariwisata yang tumbuh dari bawah. Keunikan, sejarah, dan potensi tiap lingkungan diangkat warga sendiri, sehingga atraksi yang lahir punya watak yang berbeda-beda.
Kepanitiaan festival digilir setiap tahun. Untuk penyelenggaraan keempat, empat RT — RT 5 sampai RT 8 — dipercaya memimpin, dan Sungging Vera MRT ditunjuk sebagai ketua pelaksana dengan koordinasi tetap berada di bawah Ketua RW XI.
Swadaya Warga, Batas Rp3 Juta per Anjungan
Panitia mewajibkan setiap anjungan dibangun sendiri oleh warga. Anggaran tiap anjungan diambil dari kas RT dengan pagu maksimal Rp3 juta. Model swadaya itu juga dipandang sebagai kekuatan festival. Pemkot menilai ide kreatif warga bisa diarahkan menjadi daya tarik wisata, tanpa menghapus ciri khas kampung.
Ketua RW XI Kelurahan Merjosari Pardiman menjelaskan, festival ini tidak dirancang semata sebagai hiburan untuk merayakan kemerdekaan. Menurut Pardiman, penyelenggaraan festival berpijak pada empat misi: pendidikan, ekonomi, sosial, serta pelestarian lingkungan.
Pada ranah pendidikan, warga menyiapkan lomba kebersihan antartetangga dan pelatihan digital branding untuk pelaku usaha kecil. Jumat sore, kata Pardiman, giliran para remaja mengikuti pelatihan pengolahan kopi. Adapun misi sosial dijalankan lewat kegiatan yang mempererat silaturahmi dan menumbuhkan semangat gotong royong antarwarga, sedangkan misi pelestarian lingkungan diwujudkan melalui kegiatan yang mendorong kepedulian warga terhadap kebersihan kawasan.
Petunjuk teknis panitia menegaskan, anjungan tidak memakai anggaran pemerintah kota. Selama empat hari, area festival dipakai bergantian untuk pameran anjungan, jualan UMKM, serta kegiatan warga seperti lomba dan pelatihan.
95 UMKM dan Roda Ekonomi Kampung
Sektor ekonomi dihidupkan melalui pelibatan pelaku usaha. Jumlah pelaku usaha yang terlibat tahun ini 95 UMKM. Mereka berasal dari Kota Malang dan dua daerah tetangga, Kota Batu serta Kabupaten Malang. Sekitar 40 persen dari mereka berasal dari lingkungan RW XI sendiri.
Pardiman menjelaskan, pelibatan UMKM sengaja dilakukan karena pengunjung Kampung Klasik terus bertambah dan tidak lagi hanya datang dari kalangan warga setempat. “Kami mengajak pelaku UMKM untuk terlibat,” ujarnya.
Dengan cara itu, perputaran ekonomi selama festival diharapkan ikut terasa oleh masyarakat di sekitar lingkungan RW XI, bukan hanya dinikmati pedagang dari luar Merjosari. Selain produk UMKM, festival menampilkan makanan tempo dulu yang mulai jarang ditemui, pakaian adat, dan pertunjukan seni tradisional. Kuliner tempo dulu itu dinilai mengukuhkan festival sebagai atraksi wisata yang tumbuh dari masyarakat.
Disporapar Diminta Mengkaji Kalender Wisata
Karena potensi itulah Wali Kota meminta Dinas Kepemudaan, Olahraga, dan Pariwisata (Disporapar) Kota Malang mengkaji Kampung Klasik agar masuk kalender wisata daerah. Menurutnya, event seperti ini memiliki daya tarik tersendiri bagi wisatawan, termasuk wisatawan mancanegara, karena menyuguhkan pengalaman yang berbeda dari destinasi biasa.
Kalender wisatanya bisa disusun kembali oleh Disporapar,” tegas Wahyu.
Menurutnya, pergelaran warga semacam ini satu arah dengan pengembangan kampung tematik yang dijalankan Kota Malang. Kegiatan yang tumbuh dari masyarakat dinilai dapat memperkaya pilihan destinasi wisata kota.
Kepala Disporapar Kota Malang Arif Tri Sastyawan menyatakan dukungan dan mengaku tertarik dengan konsep Kampung Klasik. Ia menilai, potensi lokal yang ditampilkan festival berdampak pada sektor pariwisata sekaligus memberi manfaat ekonomi dan sosial bagi warga. Dinasnya akan menyusun serta menata agenda wisata supaya pergelaran tersebut terintegrasi dalam promosi pariwisata Kota Malang.
Menjaga yang Klasik di Tengah Zaman Digital
Di tengah arus globalisasi, Wali Kota mengingatkan bahwa kemajuan tidak otomatis menghapus budaya dan nilai yang mengakar di masyarakat. Menurutnya, kekayaan budaya setempat mesti dirawat dan dikenalkan pada generasi muda lewat cara yang mengikuti zaman, tidak melulu formal.
Ketua Pelaksana Kampung Klasik IV Sungging Vera MRT menyoroti hal serupa dari sisi warga. Ia melihat anak-anak kini lebih akrab dengan budaya modern seiring pesatnya teknologi. “Banyak kampung sekarang sudah modern, dan justru karena itu yang klasik jangan sampai dilupakan,” ujarnya.
Ia menegaskan, istilah klasik bukan tanda ketinggalan zaman, melainkan cara warga mempertahankan budaya di tengah perubahan. Sungging berharap Kampung Klasik bisa terus berlanjut dengan konsep yang makin menarik seiring meningkatnya perhatian masyarakat.
Wali Kota juga berpesan agar teknologi tidak hanya menjadi pintu masuk budaya dari luar. “Di era digital, teknologi jangan hanya jadi jalan masuk budaya asing; ia bisa dipakai memperkenalkan budaya kita sendiri,” pesannya.
Dari Tradisi Warga Menuju Agenda Kota
Festival yang tumbuh dari swadaya warga RW XI itu kini berada di persimpangan menuju panggung yang lebih besar. Selama empat penyelenggaraan, Kampung Klasik sudah menjadi agenda tahunan yang dinanti warga Merjosari dan mulai dikenal pengunjung dari luar kawasan. Sejumlah festival kampung lain di Kota Malang, seperti yang lebih dulu berjalan di Arjosari dan Gadingkasri, memperlihatkan pola serupa: kreativitas warga menjadi kekuatan utama atraksi wisata berbasis budaya.
Menurut Wali Kota, kemajuan kota tidak lahir dari program pemerintah semata, melainkan juga dari keterlibatan serta kepedulian warga. Kegiatan yang membuat masyarakat bergerak, berkarya, dan saling menguatkan dinilai melahirkan lingkungan yang lebih rukun, harmonis, dan nyaman untuk ditinggali.
Wali Kota berharap generasi muda tumbuh mengenal, mencintai, dan bangga pada budayanya sendiri. Menjaga budaya, katanya, tidak berarti menolak kemajuan; kota bisa tetap modern dan kreatif tanpa kehilangan akar budayanya.
Ia berharap Kampung Klasik terus dijaga dan dikembangkan, bukan hanya sebagai kegiatan tahunan, tetapi sebagai tradisi baik yang melibatkan warga dan generasi muda. Dengan begitu, budaya lokal tetap terjaga sekaligus memberi nilai tambah bagi masyarakat.
Permintaan itu kini berada di meja Disporapar. Kalau kajiannya berjalan, Kampung Klasik berpeluang naik kelas: dari tradisi tahunan warga RW XI menjadi bagian dari kalender wisata berbasis budaya Kota Malang.

Foto: Dokumentasi seru.co.id. Data dan kutipan: seru.co.id (27 Agustus 2026) & Portal Kota Malang (26 Agustus 2026).
