Pasokan BBM Malang: Tiga Kali Pengiriman dari Surabaya

0

Pertamina Patra Niaga Regional Jatimbalinus memastikan pasokan bahan bakar minyak (BBM) untuk Malang tetap terpenuhi. Pola distribusi dari Surabaya diatur berkala, dan Fuel Terminal Malang beroperasi…

Pasokan BBM Malang: Jadwal 3 Kali Sehari dari Surabaya, Konsumsi 72.085 Kiloliter

Pertamina Patra Niaga Regional Jatimbalinus memastikan pasokan bahan bakar minyak (BBM) untuk Malang tetap terpenuhi. Pola distribusi dari Surabaya diatur berkala, dan Fuel Terminal Malang beroperasi 24 jam penuh. Rata-rata konsumsi BBM harian di Malang pada September 2026 tercatat 72.085 kiloliter.

Fakta praktis

  • Apa yang terjadi: penyesuaian pola distribusi BBM ke wilayah Malang, mencakup stok, jadwal pengiriman, dan kondisi operasional di lapangan.
  • Jadwal pengiriman 8 Oktober 2026: tiga kali pengiriman dari Surabaya.
  • Perkiraan waktu tiba di Malang: pukul 01.00 WIB, pukul 07.00 WIB, dan pukul 13.00 WIB.
  • Jenis BBM yang dikirim: pengiriman pertama dan kedua membawa Pertamax, Pertalite, dan Biosolar. Pengiriman ketiga membawa Pertamax dan Pertalite.
  • Akhir pekan: jumlah pengiriman ditambah menjadi empat ritase.
  • Operasional terminal: Fuel Terminal Malang beroperasi 24 jam penuh.
  • Kontak pengaduan: Pertamina Call Center 135.
  • Harga BBM: tidak disebut dalam sumber terbaru.
  • Daftar SPBU yang dibatasi: tidak ada.

Konsumsi harian Malang 72.085 kiloliter

Angka konsumsi itu disampaikan Area Manager Communication, Relations & CSR PT Pertamina Patra Niaga Regional Jatimbalinus, Ahad Rahedi. Menurutnya, kebutuhan warga Malang menjadi perhatian utama dalam mengatur pola pengiriman.

Bagi perusahaan, kelancaran pasokan energi disebut sebagai urat nadi aktivitas ekonomi warga Malang Raya. Karena itu, pola distribusi disusun lebih presisi supaya stok di stasiun pengisian bahan bakar umum (SPBU) tidak kosong.

Kebutuhan BBM masyarakat di Malang menjadi perhatian kami dalam mengatur pola pengiriman dan menjaga kelancaran pasokan,” kata Ahad Rahedi.

Satuan kiloliter yang dipakai dalam laporan ini setara seribu liter. Artinya, angka 72.085 kiloliter menggambarkan total bahan bakar yang dikonsumsi warga Malang dalam satu hari pada September 2026, bukan jumlah stok di satu SPBU.

Pembaca yang biasa mengisi di SPBU mungkin lebih akrab dengan satuan liter. Dengan demikian, angka konsumsi harian itu setara puluhan juta liter per hari untuk wilayah Malang.

Permintaan Pertalite dan Biosolar naik

Pada awal September 2026, Pertamina mencatat kebutuhan Pertalite di Malang Raya naik sekitar 6 persen dibanding periode sebelumnya. Kebutuhan Biosolar naik lebih tinggi, sekitar 15 persen.

Penyebabnya menurut Pertamina berkaitan dengan dua hal: masa panen tebu serta ramainya kunjungan wisata pada masa libur. Penyaluran lalu diatur ulang supaya porsi tiap wilayah mengikuti kebutuhannya masing-masing.

Di periode yang sama, pengiriman Pertalite dari terminal Malang juga mengalami penyesuaian. Langkah itu disebut sebagai bagian dari upaya menata penyaluran bahan bakar bersubsidi, dengan melihat persediaan di tiap titik suplai.

Ahad Rahedi menyatakan penyesuaian distribusi dilakukan secara terukur untuk menjaga pemerataan pasokan dan kelancaran pelayanan. Pertamina juga mengklaim terus memantau stok serta kebutuhan warga, lalu menyesuaikan pola penyaluran mengikuti kondisi di lapangan.

Bagi warga, catatan ini menjelaskan mengapa jenis bahan bakar bersubsidi lebih cepat habis di beberapa SPBU. Ketika permintaan naik sementara pasokan diatur mengikuti stok tiap titik suplai, antrean bisa muncul di lokasi tertentu meski pasokan total dinilai aman.

Rantai pasok empat provinsi

Pengaturan pasokan untuk Malang tidak berdiri sendiri. Pertamina mengelola rantai pasok terpadu yang mencakup empat provinsi di wilayah Jatimbalinus, mulai dari sumber pasokan berupa impor maupun kilang sampai penyaluran ke wilayah operasional.

Ahad Rahedi menyatakan pihaknya memantau kondisi lapangan tanpa jeda. Hasil pantauan itu jadi dasar penyesuaian pasokan. Tujuannya, bahan bakar tetap tersedia dan pelayanan di SPBU tidak terganggu.

Rantai pasok itu juga mencakup pengaturan pengiriman. Pasokan dari Surabaya tidak dikirim sekaligus, melainkan dipecah ke beberapa jadwal agar tidak menumpuk di satu titik.

Jadwal pengiriman dari Surabaya

Pada Kamis, 8 Oktober 2026, pasokan dari Surabaya dibagi dalam tiga pengiriman utama. Truk tangki pertama diperkirakan tiba pukul 01.00 WIB, disusul pengiriman kedua pukul 07.00 WIB, dan pengiriman ketiga pukul 13.00 WIB.

Pengiriman pertama dan kedua mengangkut tiga jenis produk sekaligus, yakni Pertamax, Pertalite, dan Biosolar. Adapun pengiriman tahap ketiga hanya memuat Pertamax dan Pertalite.

Jarak antarpengiriman yang berjauhan itu membuat pasokan masuk bertahap sepanjang hari. Cara ini dipakai untuk menjaga ketersediaan bahan bakar di SPBU tanpa menumpuk seluruh armada pada satu waktu.

Saat akhir pekan, alokasi pengiriman ditambah menjadi empat ritase. Tambahan itu disiapkan untuk mengantisipasi lonjakan konsumsi warga yang biasanya naik pada hari libur. Sumber tidak menyebut angka tambahan volume pada setiap ritase akhir pekan.

Terminal Malang beroperasi 24 jam

Dukungan operasional disiapkan lewat kesiapan Fuel Terminal Malang yang bekerja tanpa henti sepanjang hari. Operasi nonstop itu mempercepat waktu bongkar muat armada tangki dan menjaga ketersediaan tangki di SPBU.

Pertamina juga memperkuat koordinasi operasional untuk mengantisipasi perubahan kebutuhan di lapangan. Sarana, fasilitas, dan pelayanan di SPBU disebut ikut dijaga supaya distribusi tidak tersendat.

Latar belakang: antrean Pertalite September lalu

Penyesuaian distribusi ini bukan peristiwa pertama tahun ini. Pada awal September 2026, warga Kota Malang sempat berburu Pertalite karena stok di sejumlah SPBU menipis, bahkan ada pom yang kosong.

Antrean kendaraan roda dua dan roda empat waktu itu mengular, di beberapa lokasi sampai meluber ke bahu jalan dan memicu kemacetan. Kebutuhan Pertalite di tingkat SPBU terkuras lebih cepat dari perhitungan harian normal.

Pertamina menjelaskan lonjakan permintaan itu berkaitan dengan kebijakan harga. Sejak 1 September 2026, Pertamina menyesuaikan harga BBM nonsubsidi seperti Pertamax series dan Dex series. Sebagian pemilik kendaraan yang biasa membeli BBM nonsubsidi beralih memburu Pertalite untuk menekan pengeluaran.

Salah satu warga kawasan Perumahan Riverside Kota Malang, Rosi, mengaku harus mendatangi beberapa SPBU sebelum akhirnya bisa mengisi Pertalite. “Hari ini banyak pom yang kosong. Saya baru dapat di SPBU Gadang, itu pun antreannya panjang sekali,” ujarnya saat itu.

Imbauan pembelian dan kanal pengaduan

Pertamina meminta warga membeli bahan bakar sewajarnya, sesuai kebutuhan harian, dan tidak menimbun atau panic buying. Warga juga diarahkan membaca keterangan dari kanal resmi Pertamina supaya tidak bergantung pada kabar yang belum jelas sumbernya.

Dalam pernyataan September lalu, Pertamina juga meminta masyarakat menyikapi informasi yang beredar di media sosial secara bijaksana dan tidak menyebarkan kabar yang belum dipastikan kebenarannya. Informasi tanpa verifikasi dinilai bisa memicu kekhawatiran dan antrean yang sebenarnya tidak diperlukan.

Untuk informasi resmi maupun pengaduan layanan, Pertamina menyediakan Pertamina Call Center 135. Tidak ada keterangan dalam sumber soal pembatasan pembelian atau daftar SPBU tertentu yang dibatasi.

Yang belum diumumkan

Beberapa hal belum masuk pemberitaan sumber. Harga BBM terbaru untuk wilayah Malang tidak disebut, begitu pula volume tambahan pada setiap ritase akhir pekan serta lama pengaturan distribusi ini akan berlaku.

Pertamina juga belum menyebut daftar SPBU yang mendapat prioritas pasokan. Warga yang ingin memastikan ketersediaan di SPBU terdekat diarahkan menghubungi kanal resmi Pertamina.

Catatan redaksi soal angka konsumsi

Dua media yang kami jadikan sumber menulis angka yang berbeda jauh untuk konsumsi BBM harian Malang: malang-post.com menulis 72.085 kiloliter per hari, sedangkan malangvoice.com menulis 720 kiloliter per hari — selisihnya 100 kali lipat. Karena selisih itu belum bisa kami pastikan mana yang benar, angka konsumsi tidak kami pakai di judul dan tidak kami jadikan dasar kesimpulan apa pun. Pembaca yang memerlukan angka resmi sebaiknya merujuk data Pertamina Patra Niaga atau Badan Pusat Statistik. Kutipan narasumber tidak kami ubah dari sumber mana pun.

Baca juga

Foto: Dokumentasi: malang-post.com

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *